Untuk tampilan terbaik adipedia.com, gunakan browser berikut


Kisah Sedih dari Lorong Bawah Tanah

By adirossi , Posted in Jelajah dunia, Sejarah, Sekilas info
Posted on 12 Oct 2009 at 12:02am

Lorong bawah tanah Vietcong di Cu Chi, Vietnam

Di masa perang, seorang ibu tega membunuh bayinya demi menyelamatkan banyak jiwa.

Terowongan bawah tanah di desa Cu Chi kini lebih dikenal sebgai tempat wisata sejarah yang menarik dan menantang. Namun, lorong bawah yang menjadi basis perjuangan milisi Vietcong dalam perang melawan Amerika Serikat (1959-1975) menyimpan sejumlah cerita kelam.  “Banyak turis yang lebih mengagumi kisah heroik para pejuang Vietcong bersama dengan pasukan Vietnam dalam berperang melawan Prancis dan Amerika yang membantu Vietnam Selatan. Namun, ada sejumlah kenangan pahit dan penderita yang dirasakan sekitar 10 ribu pejuang dan warga yang harus berpuluh tahun tinggal di lorong sempit dan gelap,” kata Nhi Nguyen, seorang pemandu wisata di Kota Ho Chi Minh.

Satu kisah yang menyayat adalah pengorbanan seorang ibu bermarga Le yang terpaksa membunuh seorang anaknya yang baru lahir demi menyelamatkan nasib banyak orang di lorong bawah tanah.

Nhi tidak tahu persis kapan kisah ini terjadi, tetapi peristiwa itu berlangsung saat Vietnam berperang melawan Amerika.

“Zaman perang, pemerintah meminta perempuan tidak berhubungan intim dengan pasangannya selama tinggal di terowongan. Namun, seorang perempuan simpatisan Vietcong waktu itu ternyata sudah mengandung,” kata Nhi saat mengantar para turis asal Indonesia dari Kota Ho Chi Minh-populer disebut Saigon-menuju terowongan di desa Cu Chi, yang memakan waktu tempuh lebih dari dua jam.

“Ibu itu terpaksa melahirkan di ruang bawah tanah. Namun, selayaknya bayi yang baru lahir, anak malang itu menangis kencang. Ini sangat berbahaya,” kata Nhi.

“Padahal tangis bayi itu bisa terdengar di atas permukaan tanah. Ini berisiko membuat pasukan Amerika mengetahui dan menyerang terowongan,” lanjut guide yang cukup lancar berbahasa Indonesia itu.

Maka, ibu itu tidak ada cara lain menghentikan tangis anaknya selain membunuhnya. “Hidung bayi itu terus dia bekap sampai putranya tak bergerak lagi,” ujar Nhi.

Bagi para komandan dan pejuang Vietcong, langkah ibu Le merupakan tindakan heroik karena bisa menyelamatkan banyak jiwa dari serangan bom artileri dan pesawat tempur Amerika ke terowongan Chu Ci. Namun, perempuan itu menjadi sangat terpukul dan akibatnya fatal.

“Dia merasa sangat kehilangan atas kepergian putranya yang terpaksa dibunuh. Maka, setelah Vietnam bersatu dan merdeka pada 1975, ibu itu jiwanya terganggu lalu bunuh diri,” kata Nhi yang terbawa oleh kisah itu hingga sempat berurai air mata.

Bosnya, Hung Tran, mengungkapkan bahwa kisah itu kini selalu diutarakan para pemandu wisata setiap kali mereka mengantar para turis ke terowongan Cu Chi.

“Masih banyak lagi kisah yang menggambarkan pengorbanan para warga bawah tanah. Banyak di antara mereka yang mati akibat sanitasi buruk dan wabah penyakit. Belum lagi, terkena gigitan binatang dan serangga beracun yang hidup di bawah tanah,” kata Hung.

Selain itu, para warga juga terpaksa menggali terowongan baru yang lebih dalam untuk mencari sumber mata air. “Tindakan itu terpaksa mereka lakukan setelah Amerika merusak sungai Saigon dengan bom Napalm yang mencemari air,” kata Hung.

Sumber: vivanews.com

Tags: ,


Read also

Anda dapat mengakses adipedia.com dimanapun via ponsel melalui http://m.adipedia.com

16 comments

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Demi keyakinan, demi kemerdekaan, demi nyawa oreang banyak…

    [Balas]

    Wandi thok Reply:

    Di waca dhisik mas, lik Demi agi nglekar kae :lol:

    [Balas]

    KangBoed Reply:

    hahahahaha :roll:

    pertamaaaaaaaaaaaaaaaxxxxxxxzz
    KangBoed baru menulis Saresehan Budaya Spiritual Nusantara di blognya My ComLuv Profile

    [Balas]

    alamendah Reply:

    Lha, emang begitu, kan, Pak.
    “…..pengorbanan seorang ibu bermarga Le yang terpaksa membunuh seorang anaknya yang baru lahir demi menyelamatkan nasib banyak orang di lorong bawah tanah.”
    “…seorang perempuan simpatisan Vietcong….”
    So, emang bener; Demi keyakinan, demi kemerdekaan, demi nyawa oreang banyak…
    alamendah baru menulis Tiga Award Komentator di blognya My ComLuv Profile

    [Balas]

    adirossi Reply:

    Bener mas :D

    [Balas]

  2. Waw, sedih sekali aku membacanya mas :lol:

    [Balas]

    KangBoed Reply:

    bawain tissue.. buat mas wandhi
    KangBoed baru menulis Saresehan Budaya Spiritual Nusantara di blognya My ComLuv Profile

    [Balas]

    adirossi Reply:

    Oke kang :lol:

    [Balas]

  3. terharu bacanya.
    Saya jadi teringat ada film tentang perang vietnam ini yang saya tonton dulu, namun lupa judulnya. Tergambar penderitaan ketika berperang. Saya cukup terkesan dengan film atas perjuangan orang vietnam melawan Amerika. Lebih terkesan lagi karena ada perang gerilya yang mirip dengan pejuang bangsa kita dulu.
    Barangkali Mas Adi punya info atas film itu ?
    arkasala baru menulis Pengumuman !!! di blognya My ComLuv Profile

    [Balas]

    adirossi Reply:

    Rasanya saya juga pernah nonton film itu mas, tapi jg lupa namanya..ntar searching dulu deh :D

    [Balas]

  4. dalam situasi perang, kadang ada hal2 yg tak mungkin dilakukan dlm keadaan normal, harus dilakukan , walau dgn pengorbanan yg kelihatannya nggak masuk akal.
    Salam.

    [Balas]

    adirossi Reply:

    Bener bunda, sampai anak sendiri dikorbankan memang hal yang sebenarnya tragis

    [Balas]

  5. Kadang kalau dipikir secara jernih, 30 tahun kemudian, Amerika dan Vietnam sangat mesra. Georde W Bush di sambut mesra di vietnam setelah berangkat dari Bogor, dan perdana mentri vietnam juga berjalan di karpet merah saat berkunjung ke USA.

    Tinggallah kisah sedih para veteran yang seakan berjuang tanpa tujuan :)

    Perbedaan ideologi membuat manusia saling membunuh.
    Partisimon.Com baru menulis Apa saja yang harus diperhatikan dalam memasang iklan pada billboard sehingga dapat menancap kuat di benak konsumen? di blognya My ComLuv Profile

    [Balas]

    adirossi Reply:

    Peperangan itu hanya disebabkan oleh segelintir elit yang berkuasa pada saat itu, rakyatlah yang menderita dan menjadi korban

    [Balas]

Leave a Reply

Anti-Spam Quiz:

CommentLuv Enabled