Kenali Jenis Gangguan Listrik yang Sering Terjadi Pada Komputer

Gangguan listrik memang menyebalkan, gangguan listrik menyebabkan alat elektronik menjadi cepat rusak tak terkecuali komputer (PC). Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang kerap mematikan aliran listrik seenak perutnya tanpa memberitahu pelanggan terlebih dulu, terkadang pemadaman bisa berlangsung berjam-jam dan tidak ada kompensasi apapun yang mereka berikan akibat pemadaman yang mereka lakukan.  Bagaimana bila kita sedang membuat sesuatu di komputer kita tiba-tiba komputer kita mati atau restart akibat gangguan listrik, sementara pekerjaan kita belum kita save ? sedih tentunya.


Kejadian tersebut ( PC mati atau restart) merupakan suatu kejadian yang tidak bisa diprediksi, dan mempunyai sebab-sebab yang banyak sekali. Kali ini kita membatasi gangguan yang terjadi karena power komputer kita yang menjadi penyebabnya. Berbicara masalah gangguan listrik tidak hanya memikirkan kerusakan akan data yang kita miliki, tetapi juga alat-alat / hardware yang kita miliki juga bisa kena akibat buruknya.


Sangat bijak seandainya kita berjaga-jaga sebagaimana pepatah mengatakan Sedia Payung Sebelum Hujan, sedia UPS sebelum ada gangguan listrik. Namun saat kita melihat di pasaran begitu banyaknya produsen UPS menawarkan barang dagangannya, yang manakah yang akan kita pilih ? Dan cukupkah pilihan kita itu untuk mengcover masalaha yang ada ? Maka sebelum membelinya alangkah lebih baik kalau kita mengenali beberapa jenis gangguan listrik agar kita dapat memilih tipe UPS mana yang cocok untuk mengcover kebutuhan kita.


Berikut ini adalah jenis2 gangguan listrik yang sering terjadi:


1. Power Failure


Power Failure adalah suatu kejadian dimana power benar-benar hilang/ loss . Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa kejadian diantaranya adanya bencana, powernya down, kelebihan beban, dll. Hal ini menyebabkan pada kerusakan hardware , kehilangan data, system crash secara total.




2. Power SAG


Power sags terjadi saat voltase turun dalam waktu sekejap . Gangguan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti : adanya startup dalam volume yang besar, adanya peralatan yang rusak, power yang tersedia lebih kecil dari yang dibutuhkan / demand. Gangguan seperti ini dapat mengakibatkan kerusakan pada hardware.



3.Power Surge


Power Surge atau dikenal juga dengan istilah Spike terjadi apabila voltase naik diatas 110% dari nominal dalam waktu yang pendek/ sekejap. Terjadi karena beberapa sebab, diantaranya : adanya sebuah alat yang dimatikan, adanya switch. Gangguan ini dapat menyebabkan kerusakan pada hardware.



4. Undervoltage


Undervoltage dikenal juga dengan istilah BrownOut terjadi saat voltase berkurang dalam beberapa waktu (bisa beberapa menit, bahkan bisa taerjadi dalam beberapa hari lamanya) . Bisa disebabkan karena adanya load yang tinggi atau adanya beban pada saat peak. Hal ini dapat menyebabkan peralatan menjadi rusak/failure



5. Overvoltage


Overvoltage terjadi jika bertambahnya voltase dalam beberapa waktu lamanya (bisa beberapa menit atau bahkan sampai beberapa hari) . Gangguan ini biasanya selalu membuat data hilang atau hardware rusak.



6. Electrical Line Noise


Electrical Line Noise terjadi karena besarnya frequensi waveform yang disebabkan oleh RFI dan EMI . Gangguan ini dapat menyebabkan error pada program/ file,dan kerusakan komponen hardware.



7. Frequency Variation


Frequency Variation merupakan kejadian dimana frekuensi berubah-ubah alias tidak stabil. Gangguan ini dapat menyebabkan hilang data, sistem menjadi crash dan rusaknya peralatan.



8. Switching Transient


Switching Transient terjadi saat voltase turun secara tiba-tiba dalam waktu kisaran beberapa nanosecond /nano detik . Durasi yang terjadi biasanya lebih pendek daripada sebuah spike dan hanya terjadi beberapa nanosecond. Gangguan ini dapat menyebabkan kerusakan yang terlalu cepat / premature failure.



9. Harmonic Distortion


Harmonic distortion terjadi saat terjadi distorsi daripada waveform yang normal secara umum. Gangguan ini dapat menyebabkan komunikasi error, overheat, dan kerusakan pada hardware.



Dengan mengetahu beberapa jenis gangguan listrik yang sering terjadi diatas diharapkan bisa membantu setidaknya dalam menanyakan fitur dari msaing-masing produk UPS yang akan kita beli.




Tips memilih ups pada kali ini saya akan membicarakan bagaimana memilih ups berdasarkan beban yang akan dipasangkan pada ups.
Terkadang banyak orang yang membeli ups tidak sesuai dengan peruntukannya.
Dalam tips memilih ups berdasar beban ini antara lain :

1. Kita harus mengetahui beban yang akan dikoneksikan ke ups apakah beban yang kritis atau tidak kritis. Yang dimaksud beban yang kritis yaitu beban yang tidak boleh ada kesalahan sedikitpun pada sumber listriknya baik dari sumber tegangan maupun bentuk gelombangnya. Jenis beban yang kritis ini seperti server komputer, alat laboratorium, alat medis, pemancar radio, pemancar tv dan banyak beban yang lainnya. Kita dapat bayangkan jika peralatan seperti server bermasalah tentu workstation tidak dapat konek ke server dijaringannya, dan peralatan medis yang sumber listriknya jelek akan tidak presisi hasil dari analisanya, bagitu pula pemancar tv jika sampai ada gangguan dan down sumber listriknya, pemancar baru dapat on kembali setelah +/- 1jam setelah on, karena pemancar tv yang berwatt besat memerlukan waktu pada saat menghidupkannya, tidak dapat langsung on.

Sedangkan beban yang tidak kritis merupakan beban standar yang tidak memerlukan penanganan sumber listrik yang baik, seperti komputer rumahan, workstation, televisi dan lain sebagainya. Selama tegangan sumber listrik masih dalam batas yang umum digunakan pada peralatan elektronik kira-kira 180 Vac s/d 240 Vac beban akan bekerja normal.

2. Setelah kita menentukan beban kita termasuk kritis atau tidak, baru kita tentukan pilihan kita akan menggunakan ups jenis yang mana. Jika beban kritis sebaiknya kita memakai ups yang berjenis online ups (apa itu ups online offline klik di sini). Karena UPS jenis online ini outputnya akan sangat stabil baik tegangan, frekuensi maupun bentuk gelombangnya, dan gelombang yang dihasilkan dari ups online ini berbentuk sinusiodal. Dan yang terpenting juga pada saat terjadi mati listrik dan ups pindah ke mode battere UPS tidak ada tranfertime (perpindahan waktu dari mode batere ke mode line (PLN)), begitu pula sebaliknya dari mode batere ke mode line (sumber listrik utama).
Dan kalau beban kita tidak kritis kita dapat memakai ups offline / stand by (apa itu ups offline offline klik di sini) jika sumber listriknya baik dan jika sumber tegangan listriknya naik turun dapat menggunakan ups berjenis line interaktive. Kedua ups ini pada saat terjadi mati listrik ada transfer time nya (waktu pindah dari mode line (PLN) ke battere begitu pula sebaiknya), beban yang terpadasang pada ups jenis ini secara umum akan tetap hidup, tetapi ada resiko restart pada komputer meskipun jarang terjadi.