Nasib PC Dekstop Semakin Suram

PC Dekstop. Penjualan laptop terus meningkat beberapa tahun ini. Namun harus ada yang jadi korban. Saat penjualan laptop naik 60%, desktop tidak mengalami pertumbuhan. Desktop seperti sudah tidak memiliki potensi di masa depan.



Desktop saat ini masih merupakan perangkat komputer utama untuk tugas berat. Desktop masih digunakan untuk pegawai yang bekerja di depan meja. Namun untuk jenis pekerjaan lain sudah makin banyak yang menggunakan laptop.

Adopsi laptop di perusahaan besar telah meledak karena harganya makin murah. Laptop juga menyediakan mobilitas tinggi, serta produktifitas yang naik. Laptop membuat pegawai bisa bekerja saat di jalanan, termasuk mempermudah bagian sales untuk mendapat order. Laptop juga mengurangi kebutuhan membeli monitor serta peripheral lain secara terpisah.

Menurut survei Gartner, penjualan laptop naik 60% antara 2006 hingga 2008. Sedangkan PC desktop flat di periode yang sama. Toshiba sudah merasakan trend itu sejak 2001, dan memutuskan untuk menghentikan penjualan PC desktop dan fokus menjual produk mobile dan server.

“Tetapi itu bukan berarti kiamat bagi desktop,” kata George Shiffler, analis di Gartner Dataquest. Menurutnya akan tetap ada pembeli PC desktop utamanya programmer yang membutuhkan komputer berkecepatan tinggi. Selain itu desktop akan tetap menjadi perangkat utama pegawai gugus depan, serta perusahaan yang mengutamakan keamanan data.

"Mengapa harus memberikan laptop pada orang yang bekerja di bagian call center?" kata Shiffler. Pegawai semacam ini tidak butuh laptop yang lebih mahal dan biaya perawatan lebih besar. Padahal pegawai seperti itu bisa dipenuhi dengan PC standar saja.

Selain itu laptop juga sangat rawan jika hilang atau dicuri. Survei Ponemon Institute mendapati, laptop yang hilang atau dicuri menyebabkan kerugian rata-rata hingga Rp 500 juta, dilihat dari harga laptop serta data yang ada di dalamnya. Jumlah laptop yang dijual ke enterprise sudah mendekati PC desktop. Dari 168 juta PC yang dijual di seluruh dunia ke organisasi profesional pada 2008, sekitar 95 juta adalah desktop dan 73 juta laptop. Padahal pada 2006 jaraknya masih jauh, penjualan desktop 94,6 juta sedangkan laptop hanya 47,3 juta.

Sementara desktop yang tidak mudah dipindah-pindah dalam beberapa hal banyak memberikan keuntungan. Perawatan desktop lebih mudah dilakukan misalnya untuk scan virus dari jauh, atau mengedarkan update software. Desktop juga terus tersambung ke jaringan, sehingga lebih mudah dimonitor dari kejauhan. Sebaliknya laptop memiliki kekurangan sulit diawasi karena sering dibawa keluar kantor. Selain itu user seringkali memasang software yang tidak sepenuhnya aman sehingga berpotensi menyebarkan malware.

Penggunaan laptop di rumah sakit juga harus selektif. Jika laptop dicuri, maka data-data penting pasien bisa ikut hilang. Penggantian laptop juga bisa lebih mahal dibandingkan desktop. Karena desktop memiliki jangka waktu pakai lima tahun. Sementara rata-rata laptop hanya tiga tahun. Komponen laptop terutama baterai juga harus lebih sering diganti.